Nasi Goreng Rendang & Teri Medan for Bunda

Mensiasati agar sisa makanan (terutama rendang) bisa dioptimumkan, di lebaran tahun ini ayah berniat mengolah sisa rendang menjadi Nasi goreng rendang. Ide ini awalnya dicetuskan oleh om Tri, katanya, dia sudah pernah bikin nasi goreng rendang dirumahnya, dan rasanya enak. Memang dua tahun yang lalu saat Ayah dan teman-teman (termasuk om tri) masih sering makan diluar, beberapa kali kita memesan nasi goreng rendang di rumah makan padang dibelakang kantor, dan rasanya Oishi ne.

Trial

Seperti telah di perkirakan sebelumnya, sisa rendang dilebaran kali ini cukup melimpah. Uji coba pertama, karena resource rendang cukup melimpah, pada ujicoba kali ini jumlah rendang yang di gunakan cukup fantastis 3 potong untuk satu setengah porsi, caranyapun masih simple, yaitui siapkan minyak goreng, setelah panas nasi beserta rendang yang sudah di potong kecil-kecil dimasukkan, dan di goreng, hasilnya sudah lumayan karena terdompleng rasa dari rendang, namun masih belum optimum. Ujicoba selanjutnya adalah mengurangi jumlah rendang dalam porsi nasi goreng yang akan diolah, karena hasil dari percobaan sebelumnya rendangnya terlalu banyak, jadi tidak berasa nasi gorengnya, hasilnya lebih baik dari sebelumnya. Begitupun percobaan-percobaan selanjutnya, selalu mendapat input dari hasil sebelumnya. Sampai akhirnya Ayah merasa pas dengan olahan nasi goreng rendang yang kesekian kalinya. Lanjutkan membaca Nasi Goreng Rendang & Teri Medan for Bunda

Ini Medan Bung

15 Februari 2010

Setelah Sholat Subuh, Ayah segera memacu SX125 menuju kantor, hari ini Ayah berencana pergi ke Medan untuk presentasi. Sampai di kantor waktu masih menunjukan pukul setengah enam pagi, “masih sempat nih ke Blok M naik Damri”. Naik Bus Damri, ┬áselain bisa lebih berhemat, ada semacam kenikmatan naik Bus bersama banyak orang, perasaan yang sulit untuk di lukiskan dengan kata-kata. Lanjutkan membaca Ini Medan Bung