Mendaki ke kawah Ijen bersama keluarga

3 Januari 2020

Sepulang dari teluk Hijau, De Saputro bersiap istirahat, karena jam 12:00 nanti malam kita akan berangkat untuk naik ke Ijen.

selepas makan malam, kita paksakan mata ini menutup, dengan harapan bisa beristirahat sejenak sebelum naik ke Ijen

makan malam dulu biar ada stamina buat naik.

seperti baru sejenak menutup mata, tiba-tiba ada suara, Yah, Ayah bangun, sudah mau jam 12, meski mata masih mengantuk, Ayah paksakan untuk bangun, dan bersiap, ganti pakaian hangat plus jaket tebal, beserta peralatan untuk mendaki seperti tongkat dan lampu senter, taklupa tripod, untuk persiapan foto diatas nanti.

untuk naik keatas, Ayah menggunakan jasa tour travel, untuk menjemput dari hotel dan mengantarkan sampai basecamp. kira-kira setengah jam perjalanan sampailah kita di basecamp titik terakhir sebelum mulai mendaki ke kawah Ijen. sudah terlihat banyak orang berkumpul dibasecamp. dibasecamp ada banyak warung-warung yang menyediakan minuman hangat dan toilet, jadi buat yang ingin menunaikan hajat, disinilah tempat yang tepat. di kawah Ijen, ada toilet, namun letaknya cukup jauh, jadi sedikit repot kalau mau Buang air kecil atau besar diatas nanti.

Mas Nara & Dede Ran di basecamp Ijen

menjelang pukul 2 dinihari, peserta dibriefing, apa yang perlu dilakukan, kapan masker mesti dipakai, dan lain sebagainya, serta diberitahu, rombongan akan ada yang mengawal dibagian depan dan dibagian belakang, jadi tidak perlu khawatir. oh iya bagi yang tidak kuat untuk mendaki, ada jasa gerobak yang di dorong. untuk anak-anak ada 2 orang pendorong, tapi kalau untuk orang dewasa butuh 3 orang sampai 4 orang pendorong.

biaya gerobak dorong untuk anak-anak seperti Dede Ran PP (Pulang pergi) 800rb, untuk orang dewasa 600 rb hanya untuk keatas, sebenarnya biaya gerobak dorong ini sangat bervariasi, bergantung sedang ramai atau tidaknya turis yang datang, jika sedang ramai, harga bisa naik

gerobak dorong dede, bersama salahsatu pendorong dan pemandu kita

Ayah perhatikan di fase awal, mulai dari basecamp sampai pos pertama, masih banyak yang kuat mendaki, namun mulai pos kedua, tanjakan semakin terjal, beberapa orang, terutama orangtua, mulai tidak sanggup dan mulai menggunakan jasa gerobak dorong ini.

Sampai di pos kesekian (lupa euy) ada warung tempat beristirahat, disini kita bisa ke toilet, atau sekedar minum-minuman hangat, bahkan makan popmie, kesempatan berhenti ini De-saputro gunakan untuk Wefie on the way to Ijen

on the way to Ijen Crater

Semakin keatas bau belerang mulai terasa, Ayah mulai mengenakan masker agar bau belerang sedikit berkurang, dilematis sebenarnya, saat mendaki, nafas ngos-ngosan, ditambah mesti pakai masker, ohhh nikmatnya. untungnya semakin dekat puncak, jalan tidak terlalu terjal, jadi bisa ambil nafas panjang, hehehe.

Sesampainya diatas ijen, angin kencang berhembus ke arah tempat gerobak pendorong berhenti, Ayah, Bunda, Mas dan Dede segera memasang masker kuning ke mulut dan hidaung kita, agar bau belerang berkurang, tidak berapa lama, beberapa pendorong gerobak dan pemandu berteriak, blue fire, blue fire. saat Ayah bertanya ke pemandu gerobak yang berada dekat Ayah, beliau bilang, sudah beberapa hari blue fire tidak terlihat, tanda hembusan angin kearah sini (tempat berkumpulnya gerobak) menandakan kalau area disekitar blue fire clear, tidak ada kabut yang menutupinya. kalau mau melihat fenomena blue fire sekarang saatnya, pasti terlihat.

Ayah, Bunda, Mas dan Dede segera menuju ke arah blue fire, untuk melihat blue fire lebih dekat, kita mesti turun kebawah, namun karena Mas dan Dede tidak mau ditinggal, Ayah dan Bunda urung untuk turun kebawah, namun saat masih diatas, karena cuacanya cerah dan tidak ada kabut, meski dari kejauhan kami bisa melihat api biru dari gelapnya malam, cantik sekali. sayang Ayah tidak bisa mengabadikannya. konon fenomena api biru ini hanya ada 2 di dunia, salah satunya di kawah Ijen, Subhanallah.

foto blue fire yang diambil pemandu kita dari dekat

setelah melihat bluefire, pemandu kita mengajak untuk ke bagian atas, melewati hutan mati, kebetulan saat melewati hutan mati, banyak space kosong yang bisa digunakan untuk sholat, berbekal kain dan air mineral yang dibawa untuk berwudhu, kitapun sholat shubuh di ketinggian

Sholat Shubuh diketinggian Ijen

usai menunaikan sholat Shubuh, perjalanan ke atas ijen dilanjutkan kembali, info dari pemandu sekaligus pendorong gerobak Dede, pemandangan kawah Ijen dari atas sungguh bagus. saat sedang asik berjalan, ada beberapa kakak-kakak yang sedang beristirahat menahan dinginnya angin diketinggian. melihat dede Ran jalan dengan santainya, salahsatu kakak berkomentar, ya ampun Dek, kamu kuat banget ngak kedinginan, apa kita aja yang tidak kuat menahan cobaan hidup ini ya.

Dede Ran naik ke Ijen

Salahsatu spot foto yang banyak disukai turis adalah foto di pohon mati dengan latar kawah Ijen. namun seringkali kabut menutupi kawah Ijen, jadi untuk dapat pemandangan kawah Ijen ada faktor keberuntungan. Alhamdulillah selama beberapa menit cuaca clear dan kabut menghilang, jadi De Saputro bisa berfoto disini.

tempat foto legendaris, di pepohonan mati ini

Setelah berfoto di pohon mati, De-Saputro naik lagi keatas, ada spot foto yang tidak ramai, ditambah kabut juga tidak ada, jadi deh, kita berfoto di spot ini

mumpung kabut tidak menutupi kawah,

saat sedang lihat-lihat keadaan sekitar, Ayah berbalik kearah yang berlawanan dengan kawah Ijen, Ayah dapati pemandangan di belakang tidak kalah cantik, langsung deh kita foto dengan latar yang berbeda dari kebanyakan foto

sisi yang berlawananan dengan kawah, ngak kalah bagus kan?

untuk teman-teman jangan lupa untuk foto disisi yang berlawanan dengan kawah/dibelakang kawah, akan kita dapatkan pemandangan yang tidak kalah cantiknya, macam dinegeri 4 musim kan?

puas berfoto-foto, kabut mulai turun kembali, kawah Ijen yang sebelumnya jelas terlihat, tertutup kabut kembali

ini contoh foto kawah ijen yang tertutup kabut

foto kawah Ijen yang tertutup kabut

memang salahsatu tantangan wisata alam adalah, kadang kita tidak bisa memprediksi hal-hal yang diluar kendali kita, Alhamdulilah dikunjungan pertama De-Saputro ke Ijen, kita bisa dapat cuaca yang cerah, dan bisa melihat api biru. jika saat kedatangan pertama kamu tidak bisa dapatkan apa yang kamu cari, berarti kamu mesti kembali lagi ketempat itu, fighthing.

perjalanan turun dimulai, turis-turis lain, yang mendapati kabut turunpun, akhirnya turun menuju basecamp

menuruni Ijen bersama Mas

saat menuruni Ijen menuju basecamp, dibeberapa tempat angin kencang berhembus, suaranya besar membuat jiwa-jiwa yang mendengarnya bergidik ngeri

angin kencang saat menuruni Ijen

Ayah Pikir menuruni Ijen akan lebih mudah dibandingkan naik, tapi ternyata menuruni ijen memiliki tantangan tersendiri. jika saat naik nafas ngos-ngosan, saat turun, lutut rasanya sakit sekali menahan beban tubuh, jadilah kita istirahat dibeberapa lokasi untuk merelaksasi lutut

merelaksasi lutut bersama Ayah, Mas dan Bunda

loh kok dede ran ngak ada, dede Ran Sudah meluncur terlebih dahulu bersama gerobak dan pendorongnya, melesat cepat sekali.

dan akhirnya Ayah, Bunda dan Mas pun sampai juga di basecamp, ternyata kita diurutan terakhir dari rombongan, hehehe, puas menikmati pemandangan alam yang Indah ini, nextnya fisik harus lebih siap lagi, karena usai menuruni Ijen, tubuh lelah, lutut gemetar, ingin rasanya cepat kembali ke hotel untuk segera beristirahat karena siang nanti, kita harus segera melanjutkan perjalanan menuju Solo, oh noooo

Bersambung ke Africa Van Java (Taman Nasional Baluran)

2 pemikiran pada “Mendaki ke kawah Ijen bersama keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s