Kenapa Tahu Bulet di goreng Dadakan? (road to Sawarna part 2)

lanjutan dari part 1

Pantai Legon Pari

15 May 2017

Alhamdulillah bangun pagi ini badan segeeeeer, mas Nara dan dede Ran juga semangat untuk jalan pagi ini. plan hari ini, De Saputro akan melihat sunrise dari Legon pari beach. namun mempertimbangkan akses kesana yang tidak ada penerangan, jadilah De Saputro baru berangkat setelah agak terang.

masih menggunakan jasa ojek De Saputro berangkat pukul 5.30 pagi.jarak tempuh Legon Pari beach dan Karang taraje sedikit lebih jauh dari pantai tanjung layar, selain itu akses jalannya lebih sulit, selain jembatan gantung, kita juga mesti melewati perjalanan menanjak. bahkan motor matic yang Ayah sewa, meskipun sudah di gas sampai pol, karena tanjakan cukup curam, motor tidak bergerak, untung masih bisa dibantu bergerak dengan kaki, Alhamdulillah motor matic berhasil melewatinya.

sedikit penampakan motor saat melewati jembatan gantung yang Ayah upload ke youtube

Sampai di pantai legon pari, matahari tertutup awan, jadi golden time sunrise tidak bisa di nikmati dan diabadikan.jadi deh De Saputro main ayunan yang banyak tersedia dipinggir pantai. sedang seru-serunya main ayunan ada beberapa perahu nelayan yang baru sandar dari melaut, disini kita bisa menyaksikan budaya gotong royong, yaitu saat mendorong kapal dari pinggir pantai ke tempat yang lebih tinggi, Ayah sempat merekam aktivitas ini.

https://m.youtube.com/channel/UCYnEEfx44QXEI3wRNRTyLuA

menyaksikan nelayan yang sedang bekerjasama mendorong perahu.

Seperti kunjungan ke daerah wisata lainnya, De Saputro selalu menyempatkan diri menikmati liburan ditempat wisata, dan kali ini selain menikmati pemandangan yang Indah, De saputro juga berpuas-puas bermain air dan mencari kerang.

mungkin karena bukan akhir pekan, pagi ini hanya ada De Saputro dan beberapa anak muda saja, pantainya sepiiii, jadi berasa pantai pribadi

tidak lupa pesan kelapa dan makanan lain di salahsatu warung yang buka.

kelapa muda minuman wajib di pantai Sawarna

Karang Taraje

setelah puas menikmati main air, di pantai legon pari, saatnya De Saputro menuju karang taraje. perjalanan menuju karang taraje sebenarnya tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki, namun karena sudah terlanjur bawa motor, jadi deh kita naik motor menuju karang taraje.

yang menarik dari karang taraje adalah pesona air terjun yang dihasilkan dari deburan ombak pasang, namun karena air pasangnya tidak tinggi, jadi pesona air terjun tidak terlihat. sebagai gantinya kita hanya bermain air dan berfoto di karang yang datar.

karang taraje

Karang beureum

selesai bermain air dan karang taraje, kita lanjutkan perjalanan menuju karang beureum, disebut karang beureum karena ada bagian kecil yang berwarna merah,

way to Karang beureum yang berhasil direkam

disini juga de Saputro hanya main di karang, mencari kerang dan menikmati pemandangan dari pinggir pantai.

karang beureum

selesai dari karang beureum De Saputro berencana kembali ke penginapan dan bersiap pulang kembali ke Kota tercinta Depok.

 

Gumdam slip

saat akan pulang menuju Depok sempet tanya ke pekerja hotel rute alternatif, maklum jalan yang sebelumnya dilewati jelek ditambah lagi ada satu titik tanjakan yang jalannya rusak, namun karena info dari pekerja hotel jalan sama-sama rusak, De Saputro disarankan melewati jalan yang sama saat menuju ke Sawarna.

jadi deh Gundam menapaki jalan yang sama seperti berangkat, bedanya kalau saat berangkat jalanan turun, namun saat pulang menjadi jalanan menaik. tepat dititik tanjakan yang jalannya rusak, Gundam slip tidak bisa mendaki. untung Bunda calm jadi bisa kasih banyak masukan ke Ayah. setelah Gundam mundur mengambil ancang-ancang, tanpa menghawatirkan body mobil mentok di jalanan yang rusak, Ayah injek pedal gas gundam, Ahamdulilah Gundam berhasil melewati titik kritis.

pulangnya De Saputro masih disajikan pemandangan keren lainnya

berhubung sudah masuk jam makan siang, mampir sejenak dipelabuhan ratu untuk makan siang, seafood lagi namanya Gelora

setelah menunaikan sholat dan makan siang, perjalanan De Saputro dilanjut kembali.

way to Depok

gara-gara insiden gundam slip di daerah sarwana, De Saputro putuskan untuk tidak melewati rute cikidang, namun melewati rute pelabuhan ratu-cibadak yang lebih manusiawi, hehehe yah sekalian coba-coba rute lain.

dan benar saja rute ini lebih bersahabat dan tidak bikin dag dig dug. kalau lewat cikidang persneling dominan di 1 dan 2, kalau rute cibadak cukup di D.dan meskipun jalan dari cibadak menuju tol Ciawi macet karena ada bubaran pabrik dan pengecoran jalan yang belum selesai, Alhamdulillah De Saputro sampai dengan selamat.

2 pemikiran pada “Kenapa Tahu Bulet di goreng Dadakan? (road to Sawarna part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s