Kenapa Tahu Bulet di goreng Dadakan? (road to Sawarna Part 1)

10 May 2017

ditengah banyaknya pesan di group Whatss app, Ayah sekilas melihat info, kalau minggu depan akan ada Ujian Nasional (UN) untuk anak kelas 6 SD, daaaan, artinya anak kelas 1 sampai kelas 3 diliburkan. wah kesempatan nih De Saputro bisa jalan.

untuk jalan kali ini, Ayah mengajukan opsi ke Dieng, daerah pegunungan di jawa tengah, Wonosobo. Namun karena untuk ke tempat eksotik ini butuh waktu 9 jam, jadi plan untuk jalan ke Wonosobo diurungkan, alamat habis waktu dijalan. tiba-tiba Bunda mengajukan opsi ke Sawarna, dan setelah cek waktu tempuh melalui aplikasi Gmaps waktu tempuhnya sekitar 5 jam. pas nih buat De Saputro short trip.

tau, tahu bulet kan? yang banyak di jual di pinggir jalan menggunakan mobil pickup. kalau pernah mendengar iklan yang di keraskan melalui pengeras suara, kira-kira begini kalimatnya: “tahu bulet, di goreng dadakan, lima ratusan, enak coooy”

penjual tahu bulat

tau ngak kenapa tahu bulet di goreng dadakan? karena kalau di siapin jauh-jauh hari, jadinya tahu kotak, hehehehe.

menggunakan analogi tahu bulet yang di goreng dadakan, meskipun dadakan atau tidak direncanakan jauh-jauh hari, De Saputro sepakat untuk jalan ke Sawarna hari minggu besok. tidak seperti short trip sebelumnya yang hanya tek-tok atau one day trip, untuk trip ke Sawarna ini, De Saputro akan menginap satu malam, langsung deh cari-cari info penginapan di Sawarna. dari semua kandidat penginapan, terpilihlah Sawarna Paradiso.

14 May 2017

Pagi ini, De Saputro sudah bersiap sejak dini hari, dari rencana pukul 3 pagi, De Saputro baru siap pukul 4 pagi, yah lumayan lah.ditambah Gmaps di henphone xiomay sedikit bermasalah, jadi lah sedikit otak-atik. karena tak kunjung selesai, dan khawatir kesiangan, Gundam segera diarahkan  menuju ke Bogor, nanti saja deh dicoba lagi di rest area ujar Ayah kepada Bunda.

Setelah keluar tol Ciawi, De Saputro menunaikan sholat Shubuh di rest area, buat yang akan pergi ke puncak dan ke Sukabumi, rest area ini pas untuk break sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Selesai sholat Shubuh, Gmaps Xiaomay masih bermasalah, jadilah Gmaps Samsung nya Bunda jadi penunjuk jalan.

rute menuju Sawarna

Secara umum ada 2 rute utama menuju Sawarna, yang pertama lewat pelabuhan Ratu/Sukabumi, yang kedua lewat serang/Pandeglang. kali ini Ayah lewat rute Sukabumi, pelabuhan Ratu yang lebih dekat dari Depok. dari hasil browsing untuk menuju pelabuhan ratu ada 2 alternatif, yaitu lewat Cikidang dan yang kedua lewat Cibadak. infonya, jalur Cikadang sedikit lebih ekstrim naik turunnya jika dibandingkan dengan jalur Cibadak.

dua rute menuju Sawarna, yang kiri lewat Sukabumk, dan yang kanan lewat Tangerang

Awal mencoba jalur Cikidang, biasa saja, hanya belokan/kelokannya terlalu pendek, baru belok sudah belok lagi, namun mulai mendekat kearah pelabuhan ratu, jalan makin ekstrim, tanjakan dan turunannya cukup ekstrim untuk nubi driver macem Ayah. yang terbiasa transmisi atawa persneling di posisi D, lewat jalan ini, lebih dominan ke gigi 1 dan 2. sekedar saran untuk nubi driver dengan mobil matic MPV 7seater yang ccnya kecil, sebaiknya jangan lewat jalan ini, karena tanjakannya bikin dag dig dug, hehehe. lebih baik pikih rute Cibadak yang jalannya lebih manusiawi.

meskipun jalannya kecil dan naik turun, karena tidak ada truk dan Bus besar yang lewat sini, jalan cenderung lancar. setelah hampir 2-3 jam melewati jalan naik turun Cikidang, akhirnya Gundam sampai di area pelabuhan Ratu.

Short break, Pelabuhan Ratu

sebelum melanjutkan perjalanan ke Sawarna, De Saputro sepakat untuk short break dulu di pelabuhan ratu. mencoba pantai pelabuhan ratu sekalian cari sarapan. Ada beberapa titik parkiran pantai yang bisa dipilih, ada pantai citepus, ada karang hawu, dan beberapa titik lain. disini kita bisa sekedar menikmati kelapa Muda atau membeli makanan ringan dan makanan berat.

 main pasir dulu di pantai Pelabuhan ratu

minum air kelapa sambil menikmati keindahan pantai

makan Indomie sambil leyeh-leyeh di bale-bale menikmati semilir angin pantai.

Sepertinya Pelabuhan ratu bisa dijadikan salah satu destinasi one day trip De Saputro nih kalau lagi kangen main ke pantai. berangkat pagi, sore pulang.

Road to Sawarna

Selesai bermain air di pantai, minum air kelapa muda, makan cemilan dan makan siang, De Saputro melanjutkan perjalanan ke Sawarna.

jalan menuju sawarna naik turun seperti jalan menuju pelabuhan ratu, jalannya mostly bagus hanya di beberapa segmen yang sedikit rusak, dibeberapa titik kitapun bisa menikmati Indahnya pemandangan pantai pelabuhan ratu dari atas bukit

ini salah satu pemandangan indah yang bisa dinikmati

semakin mendekati kawasan Sawarna, jalanan yang sebelumnya mulus mulai rusak, selain jalurnya yang kecil, aspalnya juga sudah bolong-bolong, alhasil waktu tempuh menjadi lebih lama. oh iya saat De saputro menuju sawarna, sedang ada proses perbaikan jalan yang rusak, mudah-mudahan bisa selesai cepat selesai, sehingga wisatawan yang akan kesana bisa lebih cepat sampai dan tidak was-was.

setelah melewati jalan keriting hampir 1 jam, akhirnya De Saputro sampai di hotel Sawarna Paradiso.

Foto dulu di Sawarna Paradiso

selesai check in, De Saputro sholat sekalian istirahat untuk persiapan jalan sore nanti.

Ojek to the beach

Dapat informasi dari pegawai hotel, kalau kita bisa memesan ojek untuk menuju ke pantai, harga 130rb untuk hari ini dan besok. sebenarnya bisa saja masuk kesana tanpa menggunakan jasa ojek, namun mempertimbangkan kemudahan, dan supaya mas Nara dan dede Ran tidak terlalu cape, maka diputuskan untuk sewa jasa ojek. pesan 2 motor, 1 motor di kemudikan abang ojek, satu lagi Ayah yang bawa.

Ojek to the beach

Pantai Tanjung Layar & Pantai pasir putih  

kira-kira pukul 4 sore, De Saputro bersiap-siap untuk kunjungan ke pantai, kali ini fokus ke pantai Tanjung Layar dan pantai pasir putih.

di depan gerbang tempat pembayaran masuk area wisata, kita akan melewati jembatan gantung. biaya masuknya cukup 5rb rupiah per orang.

salah satu jembatan gantung

untuk yang tidak suka jalan jauh, ojek menjadi pilihan yang tepat untuk masuk ke spot tanjung layar.

disebut pantai tanjung layar, karena ada karang besar yang menyerupai layar

puas berfoto dan main air di tanjung layar, De Saputro pindah ke pantai pasir putih, main air dipinggir pantai sambil menunggu sunset

Sunset di pantai Pasir putih Sawarna

Seafood

ngak afdol rasanya main ke daerah pantai, tapi belum merasakan makanan laut, hasil tangkapan daerah sekitar. infonya dipinggir pantai banyak yang menyediakan makanan khas pantai yang satu ini, namun karena sudah kemalaman, acara makan di pingir pantai terpaksa di batalkan. Tanya-tanya ke mas atau aa yang mengantar kita ke pantai sore ini ternyata ada tempat makan seafood di dekat hotel, namanya Wa Nyai. Meskipun tidak menikmati ikan bakar tanpa semilir angin pantai, lumayan lah bisa mengobati makan hasil tangkapan nelayan sekitar.

ini dia penampakannya

bersambung ke part 2 (https://gyannara.wordpress.com/2017/05/18/kenapa-tahu-bulet-di-goreng-dadakan-road-to-sawarna-part-2/)

2 pemikiran pada “Kenapa Tahu Bulet di goreng Dadakan? (road to Sawarna Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s