Murah kok pak, ngak sampai puluhan ribu

3 January 2014

Saat perjalanan pulang dari Solo menuju Depok, diputuskan untuk singgah sejenak di Indramayu untuk menunaikan sholat, makan dan beristirahat.

Selepas tol cirebon, mulailah cari-cari masjid yang mudah parkirnya, dan akhirnya menepilah de Saputro di sebuah Masjid, bernama masjid Al-Adhom. Beberapa mobil juga terlihat sedang singgah, untuk beristirahat.

Setelah GL terparkir, ditemani mas Nara dan dede Ran, Ayah, dan Bunda, menunaikan sholat sejenak. Segar rasanya selesai menunaikan sholat, kaki yang sedikit kaku, mulai meregang kembali. Alhamdulillah masih bisa merasakan nikmat ini.

Saat akan kembali ke mobil, sekelebat Ayah melihat penampakan tukang jajan di pinggir masjid, salahsatunya penjaja ketoprak. Selagi mas Nara dan dede Ran menikmati santap siang, Ayah bermaksud mencoba ketoprak citarasa Indramayu, segera Ayah datangi penjaja ketoprak tersebut.

Ayah : Satu porsi berapaan mas?
Pedagang : Murah kok pak.
Ayah : iya berapaan pak seporsinya
Pedagang : murah pak, ngak sampe puluhan ribu

Mulai sebel sama nih penjual ketoprak, masa ditanya dua kali, jawabnya ngak spesifik

Ayah : iya mas, berapa seporsinya
Pedagang : ngak mahal mas, ngak sampe puluhan ribu
Ayah : saya ngak jadi beli deh mas, (seraya meninggalkan penjual ketoprak)
Pedagang : eh pak, 15 rb aja deh pak

Mendengar sekilas abang ketoprak yang akhirnya menyebutkan harga , ayah yang sudah sebel, tidak beralih dan tetap meninggalkan pedagang tersebut dan segera masuk kedalam mobil.

Sesampainya di mobil, Ayah cerita pengalaman lucu ini ke bunda, seumur-umur, baru kali ini nanya harga dijawab seperti ini. Jadi punya prasangka buruk sama si abang (maaf ya bang, abis abang sendiri sih), jangan2 kalau tadi sudah terlanjur pesan, dan sudah dimakan, Ayah bakal dikenain tarif tinggi aka di tembak atau di tuk2.

Jadi inget pengalaman sembilan tahun silam dikenakan tarif tinggi atau harga tembakan di Cirebon. Selesai kerja malam, setting server, router dan client, Ayah dan beberapa teman-teman mampir sejenak diwarung tenda seafood. Melihat geografis cirebon yang dekat laut, sepertinya nikmat nih menikmati santapan laut malam-malam gini. Pesanlah Ayah dan teman-teman menu normal, selesai menikmati santap malam, sedikit kaget saat akan membayar, harganya mahal buanget untuk warung tenda dipinggir jalan. Untung uang SPJ masih utuh, jadi Ayah dan teman-teman masih sanggup patungan buat bayar harga yang tidak masuk akal ini. Selepas kejadian semalam, Ayah dan teman-teman sedikit parno kalau mau makan, jadi deh selama di Cirebon waktu itu, setiap mau makan selalu bertanya harga, hehehe

Oknum pedagang seperti ini, kalau Ayah bilang tidak punya keinginan membesarkan usahanya loh kok? pedagang seperti ini hanya memikirkan keuntungan sesaat, mereka berdalih, biar saja toh palingan mereka (pembeli) cuma sekali ini mampir. ups jangan salah mungkin saja mereka hanya sekali mampir kesana, tapi mereka punya mulut yang bisa menceritakan pengalaman mereka ke banyak orang, punya teman, saudara atau relasi yang sebenarnya bisa menjadi potensi pelanggan setia.

“Eh warung seafood yang dideket pelabuhan enak dan harganya masuk kantong loh” kalau kata-kata ini yang keluar, bukan tidak mungkin akan menjadi awal berkembangnya warung tersebut. Sudah berapa banyak warung, toko, atau pusat oleh-oleh yang tidak perlu beriklan malah ramai karena promosi dari mulut-kemulut, seperti yang satu ini. Bayangkan anda mendapat iklan gratis dari mulut kemulut, yang sering kali lebih powerfull dibandingkan iklan ratusan juta rupiah yang ada di media.

Ayah sendiri, jika mengunjungi salahsatu kota, saat mencari tempat makan, pusat oleh-oleh, lebih percaya informasi teman atau pengalaman blog seseorang.

Coba bandingkan kalau kalimat promosi yang keluar menjadi
“Eh jangan beli seafood yang deket pelabuhan tuh, harganya mahal, rasanya juga standard”

Bukan hanya oknum pedagang yang bersangkutan yang kena efeknya, pedagang lainnya yang tidak memasang harga tembak, ikut terkena dampaknya, secara tidak langsung oknum pedagang tersebut merugikan pedagang lainnya.

Ayah jadi teringat, kisah lesehan di jalan Malioboro, dulu sempat dengar dari seorang kawan, jangan makan dilesehan malioboro harganya tembakan semua, sejak saat itu, Ayah tidak pernah makan dilesehan malioboro. Padahal bisa saja saat ini banyak pedagang lesehan di Malioboro sudah tidak pasang harga tembakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s