Mencontoh kepada orang tak berilmu

Sholat Jum’at

Ayah Nara teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat itu ayah berangkat menunaikan ibadah sholat jum’at, di sekitar kuningan. Berhubung seluruh area masjid sudah penuh. Ayah menggelar koran yang dijajakan anak-anak kecil sebagai alas untuk sholat jum’at.

Tidak berapa lama ayah duduk, hujan turun dengan lebatnya, Ayah Nara dan beberapa jamaah segera masuk kedalam halaman masjid yang sudah penuh.kebetulan bagian halaman masjid sudah tertutup kanopi, sehingga Ayah dan beberapa orang yang berniat sholat jum’at tidak terkena tetesan air hujan.

Karena ketambahan beberapa jamaah, halaman masjid yang sebelumnya sudah penuh, menjadi lebih sesak.  Saat itu Ayah berfikir rasanya sulit bagi beberapa jamaah, khususnya yang berada dibagian belakang untuk melakukan gerakan sholat, seperti rukuk ataupun sujud.

Waktu sholat jum’at pun tiba dan benar saja, ada sekitar 3 shaf yang tidak bisa melakukan gerakan sholat. diantara 3 shaft yg tidak memungkinkan melakukan gerakan sholat, spontan beberapa orang bertakbiratul ikhram, beberapa jamaah termasuk ayah mengikutinya. Namun saat pindah gerakan dari berdiri ke ruku, karena posisi yang tidak memungkinkan akhirnya tetap berdiri, begitupun ketika sujud kita tetap berdiri sampai duduk tahiyat akhir, kira-kira mirip sholat jenazah. dalam hati ayah wah sholat Jum’at model baru nih.

Karena merasa Sholat yang dilakukan tidak sempurna, sesampainya di kantor, ayahpun bertanya kepada beberapa orang yang lebih paham mengenai masalah ini dan jawabannya sholat ayah tidak sah. Ayah harus melakukan sholat zhuhur sebagai penggantinya.

dalilnya diambil dari diperbolehkannya melakukan sholat dirumah jika ada halangan berupa hujan seperti hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِى يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ – قَالَ – فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِى الطِّينِ وَالدَّحْضِ.

Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan kepada mu’adzin pada saat hujan, “Apabila engkau mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna
Muhammadar Rasulullah’, maka janganlah engkau ucapkan ‘Hayya ‘alash sholaah’. Tetapi ucapkanl‘Sholluu fii buyutikum’ [Sholatlah di rumah kalian]. Lalu perawi mengatakan, “Seakan-akan manusia mengingkari perkataan Ibnu Abbas tersebut”. Lalu Ibnu Abbas mengatakan, “Apakah kalian merasa heran dengan hal itu. Sungguh orang yang lebih baik dariku telah melakukan seperti ini. Sesungguhnya (shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban. Namun aku tidak suka jika kalian merasa susah (berat) jika harus berjalan di tanah yang penuh lumpur.” (HR. Muslim no. 1637). Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas mengatakan, “Orang yang lebih baik dariku telah melakukan hal ini yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim no. 1638)

An Nawawi -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Dari hadits di atas terdapat dalil tentang keringanan untuk tidak melakukan shalat jama’ah ketika turun hujan sebagaimana udzur (halangan) yang lainnya. Dan shalat jama’ah (sebagaimana yang dipilih oleh Syafi’iyyah, pen) adalah shalat yang mu’akkad (betul-betul ditekankan) apabila tidak ada udzur. Dan tidak shalat jama’ah dalam kondisi seperti ini adalah suatu hal yang disyari’atkan (diperbolehkan, pen) bagi orang yang susah dan sulit melakukannya. Hal ini berdasarkan riwayat lainnya,’Hendaknya shalat bagi yang menginginkan shalat di rumahnya’.” (Lihat Syarh Shohih Muslim, 3/7, Maktabah Syamilah)

Sayid Sabiq -semoga Allah merahmati beliau- dalam Fiqh Sunnah menyebutkan salah satu sebab yang membolehkan tidak ikut shalat berjama’ah adalah cuaca yang dingin dan hujan. Lalu beliau membawakan perkataan Ibnu Baththol, “Para ulama bersepakat (ijma’) bahwa tidak mengikuti shalat berjama’ah ketika hujan deras, malam yang gelap dan berangin kencang dan udzur (halangan) lainnya adalah boleh.” (Lihat Fiqh Sunnah, I/234, Maktabah Syamilah)

Ayah kemudian teringat banyaknya jemaah yang mengikuti sholat model ini. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencontohkan sholat seperti itu.

Inilah akibat kurangnya ilmu,akibatnya mencontoh kepada orang yang tidak berilmu.
mungkin orang yang mencontohkan Sholat dengan metode seperti itu tidak sadar jika apa yang dicontohkannya tidak memiliki dasar dan bisa tergolong perbuatan bid’ah.

Apakah ini saat yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai masa di mana ilmu diangkat dan kebodohan merajalela.

Dalam Ash-Shahiihain, dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

من أشراط الساعة أن يُرْفَعَ العلم، ويَثْبُتَ الجهلُ.

“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan”.[1]

Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiiq, ia berkata : “Aku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa. Mereka berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

إن بين يدي الساعة لأيَّاماً يُنزَلُ فيها الجهلُ، ويُرْفَعُ العلم.

“Sesungguhnya menjelang hari kiamat kelak, akan ada hari-hari yang diturunkanya kebodohan dan diangkatnya ilmu”.[2
Semoga kita selalu diberi kemudahan untuk dapat menuntut ilmu, sehingga kita terhindar dari mencontoh kepada orang tak berilmu dan berbuat ibadah yang diada-adakan.

Satu pemikiran pada “Mencontoh kepada orang tak berilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s