Nostalgia

“Cuaca di darat dilaporkan 27 derajat celsius” kira-kira 5 menit setelah pengumuman dari awak kabin, mendaratlah pesawat dari Medan di Jakarta. saat itu waktu menunjukkan pukul 18.15 wib, Ayah segera mengambil barang bawaan di kabin kemudian bergegas jalan keluar bandara.

Seperti rencana semula, karena waktu masih sore, diputuskan untuk naik Bus Damri dari Bandara menuju Pasar Minggu/Kp rambutan, dari salah satu tempat tersebut baru melanjutkan perjalan kerumah menggunakan taksi. Maklum biaya Taksi dari Bandara menuju depok kira-kira 200 rb, angka yang lumayan, terutama di tanggal tua.

Setelah menunggu 15 menit, ternyata Bus Damri tujuan Kp Rambutan yang datang terlebih dahulu, segera Ayah naik ke dalam bus .ternyata bus tidak langsung jalan menuju ketempat tujuan, melainkan”mencari” penumpang dengan mendatangi terminal yang lainnya, cukup lama bus mengantri menunggu penumpang di tiap terminal, alhasil baru pukul 19.45 bus meninggalkan bandara menuju tol dalam kota.

Kalau di ingat-ingat inilah pertama kalinya ayah naik Bus dari Bandara menuju Kampung rambutan, rute yang dilewati ternyata keluar tol di asrama pondok haji, hek, pasar induk, pasar rebo dan terakhir sampai kampung rambutan. tidak sampai akhir tujuan, ayah putuskan untuk turun di pasar Rebo, dan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi ke Depok. Namun begitu melihat angkot merah T19 melintas di depan, ada pikiran untuk mencoba naik T19 menuju Depok.

Mungkin sudah 3 tahun lebih Ayah tidak naik angkot ini, jadi ingat nostalgia saat kuliah, Naik turun angkot ini dari dan menuju Depok. tidak ada perbedaan yang signifikan mengenai angkot ini, mulai dari rute, kapasitas penumpang, jenis mobil yang digunakan, dan warna merah yang menjadi ciri khas angkot Jakarta yang tergabung dalam KWK (Koperasi Wahana kalpika). yang berbeda adalah ongkosnya, kalau dulu dari Depok menuju pasar rebo berkisar 1500-2000 rupiah, sekarang menjadi 3500 rupiah.

Tidak sampai 10 menit angkot ini pun penuh dan bersiap jalan menuju depok. Ternyata kalau angkotnya penuh,  tempat duduk yang sebelumnya longgar menjadi lebih sempit, karena penuhnya penumpang, ditambah barang bawaan oleh-oleh khas Medan. Namun kalau dipikir-pikir, di angkot ini kita diajarkan berbagi, dari mulai berbagi tempat duduk dan berbagi udara (tidak merokok dan tidak kentut) rasanya satu nasib. Hal yang tidak pernah Ayah rasakan beberapa tahun terakhir ini, karena biasanya kemana-mana, Ayah biasa naik motor atau mobil. dan entah kenapa, setiap naik angkutan seperti ini, ayah merasa tenang karena merasa menjadi orang-orang kebanyakan. Mungkin ada baiknya wakil rakyat dan pejabat kita sekali-kali “mencoba” angkutan umum, entah itu kereta, angkot, busway, dan sejenisnya, supaya mereka bisa merasakan, apa yang orang biasa rasakan.

Sampai di lenteng sudah ada beberapa penumpang yang turun, jadi tempat duduk menjadi longgar kembali. Memasuki area Depok jumlah penumpang yang turun semakin banyak, sambil mengamati jumlah uang yang perlu dibayarkan untuk naik angkot dari pasar rebo menuju Depok. Dulu Ayah Nara sering menghitung secara logika kira-kira berapa jumlah uang yang bisa dikumpulkan “salah satu profesi”, kadang tukang jual lem, kadang tukang buah, kadang tukang balon, tukang apa saja yang lewat di depan mata. Sebenarnya tidak ada tujuan mengapa ayah nara menghitung, namun seringkali “hitungan secara logika” Ayah Nara menghasilkan hitungan yang hasilnya mengejutkan kecilnya dan membuat Ayah Nara berfikir, bagaimana orang ini bisa hidup dengan uang sekecil itu.

Positifnya, dari hasil hitung-hitungan itu, Ayah Nara menjadi lebih bersyukur terhadap apa yang sudah dimiliki. memang ada pepatah, untuk urusan dunia, lihatlah kebawah, namun untuk urusan akhirat lihatlah ke atas. seseorang yang mengeluh akan sepatu yang kebesaran, berhenti mengeluh saat ia melihat orang yang tidak memiliki sepatu, orang yang tidak memiliki sepatu berhenti mengeluh saat ia melihat orang yang sudah tidak memiliki kaki, dan seterusnya. Namun kebanyakan kita berlaku sebaliknya, justru melihat keatas untuk urusan dunia dan melihat kebawah untuk urusan akhirat. akibatnya, banyak orang yang berlomba-lomba menumpuk kekayaan, kerja sampai lupa keluarga, bahkan ada juga yang melakukan kecurangan dan sebagainya.

Satu pemikiran pada “Nostalgia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s