Ini Medan Bung

15 Februari 2010

Setelah Sholat Subuh, Ayah segera memacu SX125 menuju kantor, hari ini Ayah berencana pergi ke Medan untuk presentasi. Sampai di kantor waktu masih menunjukan pukul setengah enam pagi, “masih sempat nih ke Blok M naik Damri”. Naik Bus Damri,  selain bisa lebih berhemat, ada semacam kenikmatan naik Bus bersama banyak orang, perasaan yang sulit untuk di lukiskan dengan kata-kata.

Sambil mendengar percakapan Ibu-ibu di kursi belakang mengenai tempatnya bekerja, ayahpun tertidur (emang paling enak tidur sambil di didongengin, hehehe). Bangun-bangun Bus yang dinaiki sudah keluar dari tol Sedyotomo (Bener ngak ya tulisannya). Sampai di terminal 2F waktu masih menunjukan pukul 07.00, Segera Ayah check-in dan menuju di gate F2, dan tak berapa lama, pesawatpun take off menuju bandara Polonia Medan.

Kalau di ingat-ingat,mungkin ini ke 6 kalinya Ayah Nara pergi ke Medan. Waktu pertama kali ke Medan Ayah berpikir akan banyak orang batak yang berbahasa keras dan tegas(no offense ya, hehehe), Namun dugaan ayah ternyata salah, di Medan sendiri, berbagai suku bangsa di sini bercampur baur, ada India, Cina, Batak, Melayu, Aceh, Jawa dan lainnya, tapi Melayu lebih dominan disini

kira-kira dua jam perjalanan, sampailah pesawat yang Ayah naiki di Medan, segera pesan taksi menuju kantor partner, sambil telp om Wido untuk menanyakan posisi kantor partner. tidak sampai setengah jam sampailah Ayah di tempat yang dituju. Kira-kira pukul 16.00 selesailah urusan Ayah. sebenarnya hari itu Ayah bisa saja langsung pulang ke Jakarta, namun karena ada teman yang akan menyusul ke Medan besok, jadi kepulangan Ayah ditunda menjadi besok malam.

Berhubung dari Jakarta belum sempet cari-cari penginapan, barulah sepulang dari kantor partner, dengan dianter Supir yang masih familynya om Jamot, Ayah, Om Jamot, Om Wido, Om Husein, dan Om Rangga  menuju hotel tempat Om Rangga menginap. Dipandu Om wido yang besar di Medan, Ayah, dan teman-teman Ayah ditunjukan Istana Maemun, Masjid Raya, dan hal-hal lain yang menjadi ciri khas kota Medan.

Selesai mandi dan sedikit istirahat, dipandu Om Wido, Ayah, Om Jamot dan Om Rangga, jalan-jalan di kota Medan mencari wisata Kuliner khas kota Medan. setelah diskusi, disepakati untuk menuju ke Kampung Keling, denger-denger sih dinamakan kampung keling karena disekitarnya banyak orang-orang bangladesh, dan India yang warna kulitnya hitam keling (sekali lagi no offense ya), padahal waktu ketemu orang Bangladesh di training center Jepang orangnya putih kok, malah lebih putih dari Ayah hehehe. tak berapa lama sampailah kami di kampung keling ini, Om wido segera memesan mie rebus, Sate, dan martabak. berikut penampakannya:

Mie rebus, rasanya lumayan unik, beda dengan mie rebus yang pernah Ayah makan, namun sayangnya rasanya agak sedikit masam, kurang cocok di lidah Ayah, untuk sate, rasanya juga sedikit masam, kata penjualnya sih dikasih asam jawa. yang normal adalah martabak+karinya, rasanya lumayan, tapi juaranya justru di sate kerangnya. Selesai makan Ayah, dan teman teman segera pulang menuju hotel. Thanks untuk Om Wido yang sudah traktir.

16 Februari 2010

Selesai urusan kenegaraan, sekitar pukul 11.00, walaupun perut belum bernyanyi, diputuskan untuk makan siang,atas usulan teman-teman area akhirnya Ayah, om Wido, om John dan teman-teman area menuju Sop Sum-sum Langsa di Jalan Misbah. kira-kira 10 menit sampailah Ayah di tempat sop sum-sum. foto dulu ah

Sebenarnya Ayah kurang suka dengan makanan yang berasal dari sekitar kaki, jeroan sapi, namun berhubung Mie Aceh di tempat makan itu belum ada, diputuskan untuk memesan satu Sop sum-sum+daging, kapan lagi bisa makan-makanan kayak begini kalo bukan di Medan. tidak menunggu lama pesananpun datang, di depan Ayah di sediakan satu mangkuk berisi potongan tulang (sepertinya sih bagian kaki) beserta sedotan, sepiring Nasi, dan perkedel. Sedotan ini nantinya digunakan untuk menghisap sum-sum tulang tersebut.

Selain sedotan, disediakan pula pisau, untuk memotong bagian daging atau kikil yang masih menempel di tulang tersebut, nih fotonya, semangat bener nih Om Wido

Buah tangan khas Medan

Setelah perut terasa penuh, Ayah, om Wido, om John dan teman-teman regional kembali ke kantor. setelah urusan kenegaraan selesai perjalanan dilanjutkan untuk mencari oleh-oleh yaitu Bolu Meranti, sudah ada 4 pesanan untuk Bolu ini. Ini dia counter tempat jualnya

Sebelum bolu Meranti, oleh-oleh khas medan adalah bika Ambon, sirup markisa, sirup terong belanda dan manisan jambu, namun karena pesanan oleh-oleh hanya memesan Bolu Meranti, jadi hanya membeli oleh-oleh ini.

Kembali Ke Jakarta

Sebenarnya schedule pesawat Ayah dan om John malam nanti, kira-kira setengah delapan malam, namun karena sudah tidak ada aktivitas yang perlu dilakukan Ayah dan om John memutuskan untuk memajukan schedule penerbangan, Alhamdulilah dapat schedule sekitar pukul empat sore. dengan diantar Om Wido dari Bolu meranti, Ayah dan om John menuju Bandara Polonia untuk kembali ke Jakarta.

7 Juni 2012

Alhamdulilah dapat kesempatan lagi ke Medan, kali ini kunjungan ke Medan hanya sehari, jadi tidak banyak yang akan Ayah ceritakan, Ayah hanya akan menginformasikan oleh-oleh alternatif selain Bolu meranti, oleh-oleh alternatif tersebut adalah teri Medan.

ini dia teri Medan

Sebagai sentra penghasil teri yang terkenal, pantaslah oleh-oleh ini dibawa sebagai oleh-oleh khas Medan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s